Kamis, 25 November 2010

MUSIK SERIOSA

PENGERTIAN SERIOSA
jenis irama lagu yg dianggap serius krn membutuhkan teknik suara yg lebih tinggi, dibedakan dr irama keroncong, atau irama hiburan.Sumber: http://www.artikata.com/arti-350642-seriosa
CONTOH LAGU SERIOSA
if i could write you a song,
and make you fall in love,
i would already have you up under my arm.
i used to paul all my tricks,
i hope that you like this.
but you probably won't,
you think you're cooler than me.

you got designer shades,
just to hide your
Sumber: http://www.nuttymp3.com  
Pada tahun 1960-an, tiga jenis musik digelar dalam Pemilihan Bintang Radio (kemudian Pemilihan Bintang Radio dan Televisi). Ketiga jenis musik itu, hiburan, keroncong, dan musik seriosa. Begitu pula dengan urutan jumlah peminat untuk menjadi peserta pemilihan bintang radio dan televisi. Hiburan di peringkat pertama, keroncong di tangga kedua, dan seriosa di urutan buncit.

Mengapa hal itu terjadi. Salah satu penyebabnya, kemungkinan besar adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam membawakan musik seriosa. Harus serius. Memang, jenis musik lainnya pun memerlukan keseriusan yang tinggi, tetapi musik seriosa lain.

Menurut Dailami Hasan, seorang guru vokal, yang kendati sudah pensiun masih sempat mengajar di ISI Yogyakarta jurusan vokal, musik seriosa dapatlah disebut musik seni. Kualitasnya tinggi. Apakah kalau sulit, berarti kualitasnya tinggi? Belum tentu juga. Namun, kalau kita melihat, komposisi musik seriosa biasanya menyajikan tantangan bagi penyanyinya.

Pertama, komposisi musik seriosa, yang konon "meniru" lieder-nya tokoh musik zaman klasik, Franz Schubert, antara musik dan syairnya menyatu padu. Dari intro sampai ekstro, digubah sebagai sebuah kesatuan. Interlude dipasang dengan sengaja, terencana, dan ada maknanya.

Kita mengenal tokoh-tokoh penggubah musik seriosa hanya beberapa gelintir. Bisa kita sebut, Cornel Simanjuntak, Binsar Sitompul, Mochtar Embut, AJ Soedjasmin, dan yang baru saja "surut", meninggal dunia, FX Soetopo. Lepas dari itu, bisa dibilang tak ada lagi generasi penerus dalam dunia penciptaan musik seriosa. Dengan penuh harap, kita menunggu hadirnya komponis musik seriosa.

Kalau kita menyimak musik seriosa, tampaklah umumnya, pemusik bekerja sama dengan penyair. Penyair-penyair yang karyanya "dicomot" untuk dijadikan nyanyian seriosa cukup banyak. Di antaranya: Sanusi Pane, Usmar Ismail, JE Tatengkeng, Chairil Anwar, dan WS Rendra. Mengapa begitu. Mungkin para pemusik "tahu diri" bahwa lahannya berbeda. Namun, mereka bisa bekerja sama.

Dan yang pasti, syair garapan penyair andal pasti terjamin kualitasnya. Memang ada komponis yang sekaligus membuat musik dan liriknya. Lalu mengalunlah, Aku, Cintaku Jauh di Pulau, Citra, Dewi Anggreini, dan Embun, menjadi wakil nomor andalan musik seriosa. Umumnya, tanda ekspresi, tempo, dan dinamika sudah lengkap tertulis dalam partitur. Ini memudahkan penyanyi menginterpretasikan musik seriosa.

Teknik pembawaannya pun tidak gampang. Misalnya dari segi pernapasan, musik seriosa menuntut pernapasan diafragma. Tak ketinggalan, teknik produksi suara yang khas. Misalnya, adanya vibrato yang tidak mengeruhkan kejelasan ucapan (artikulasi). Soal resonansi (penggemaan suara) dan sonoritas pun menjadi poin tersendiri dari musik seriosa. Simaklah ketika Pavarotti beraksi dengan suara emasnya.

Belum lagi tingkat kesulitan dalam hal interval, pitch (tinggi nada), dan durasi. Umumnya musik seriosa menurut istilah awam, notnya banyak yang salah. Karena (kalau ditulis dengan not angka) menggunakan garis yang menerjang not. Atau nada-nada kromatis.

Dari segi durasi, nilai nada, tak jarang musik seriosa menghadirkan not yang rengket, rapat, not sepertiga puluh dua. Misalnya, satu ketukan dipakai untuk empat atau lebih not. Belum lagi triol kecil dan triol besar. Semuanya menuntut keterampilan yang tinggi untuk dapat dengan cermat membunyikannya.

Mungkin itulah penyebab sedikit orang yang melirik ke musik seriosa. Bisa dibilang, penyanyi seriosa di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Taruhlah nama-nama Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, dan Linda Sitinjak. SUMBER: http://hurek.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar